Connect with us

Pemerintahan

Antisipasi Kebakaran Hutan dan Lahan, BPBD Berencana Dirikan Pos Pantau

Diterbitkan

||

Antisipasi Kebakaran Hutan dan Lahan, BPBD Berencana Dirikan Pos Pantau

Memontum Kota Batu – Masuk musim kemarau potensi bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi ancaman bagi Kota Batu. Mengingat pada musim kemarau tahun lalu Gunung Panderman dan Gunung Arjuno dilalap api. Dari dua lokasi itu total lahan yang terbakar seluas 450 hektar. Melihat pengalaman tahun lalu potensi kebakaran hutan terjadi pada bulan Juli hingga Agustus.

Untuk mengantisipasi potensi kebakaran hutan pada musim kemarau tahun ini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) berencana akan mendirikan pos pantau di dekat Gunung Panderman dan Gunung Arjuno. Pos pantau Gunung Arjuno akan didirikan di Kecamatan Bumiaji Dusun Junggo, Desa Tulungrejo dan Desa Sumber Brantas. Sedangkan untuk pos pantau Gunung Panderman akan ditempatkan di Dusun Toyomerto, Desa Pesanggrahan.

Didirikannya pos pantau berdekatan dengan Gunung Arjuno dan Gunung Panderman untuk siaga dini, jika sewaktu-waktu muncul kepulan asap bisa ditangani lebih awal. Serta memudahkan dan mempercepat tiba di lokasi sehingga bisa ditangani lebih cepat agar tak merembet luas.

Kasi Kedaruratan dan Logistik BPBD Kota Batu Achmad Choirur Rochim mengatakan pendirian pos pantau akan dibahas lebih lanjut dalam rakor bersama pemangku wilayah hutan UPT Tahura R Soerjo, Perhutani, TNI, Polri dan BMKG Stasiun Klimatologi Malang. Ia berharap, nantinya hasil rakor bisa mengoptimasi pendirian pos pantau pada akhir bulan Juli atau di awal Agustus.

Rochim menjelaskan selama ini personil dipusatkan di Posko BPBD Punten Desa Punten Kecamatan Bumiaji Kota Batu. Lokasi jangkauannya relatif jauh dari Gunung Panderman dan Gunung Arjuno sehingga memakan durasi waktu yang cukup panjang pula.

Durasi waktu yang relatif panjang, belum lagi medan yang terjal mengakibatkan kendala untuk mempercepat penanganan kebakaran hutan. Terlambat sedikit saja kobaran api sudah meluas dan menyulitkan proses pemadaman. Dengan alasan itulah BPBD ingin mendirikan pos pantau lebih dekat ke kawasan hutan.

“Opsi ini masih perencanaan bagaimana kita bisa siaga lebih awal. Begitu ada titik api bisa segera ditangani agar tak merembet luas. Begitu ada kepulan bisa langsung menuju lokasi agar tak meluas,” papar Rochim.

Perlu rapat kordinasi untuk menghitung biaya kebutuhan. Pengalaman sebelumnya, pelaksanaan menjelang akhir bulan Juli dan bulan Agustus.

Di sisi lain, BPDB harus membagi konsentrasinya yang terkuras untuk penanganan Covid-19. Kondisi ini memaksa BPBD berhitung ulang dengan ketersedian sumber daya manusia yang dimiliki sejumlah 40 personil. Sementara itu, potensi bencana lainnya, berupa kebakaran hutan menjadi ancaman ketika memasuki puncak musim kemarau.

“Otomatis kami harus berhitung dengan ketersediaan jumlah personil yang saat ini difokuskan penanganan Covid-19. Kalau tidak, juga jadi masalah. Serta berhitung kebutuhan operasional,” papar dia.(bir/yan)

 

Advertisement
klik untuk berkomentar

Tuliskan Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler